Gelap

Ketika suasana hening, tiba-tiba bunyi peluit itu mengetuk sampai ke telingaku. 2 peluit artinya berkumpul di sumber suara memakai atribut lengkap.

“Cepat kalian kesini!”
“Siap kak.” teriak kami panik.
Aku dan tiga belas rekanku saling membantu untuk menemukan jalan ke sumber suara. Ya, saling membantu karena di tengah hutan yang dingin. Luka di tangan karena goresan dengan daun dan ranting selama kami disini sudah tak berarti. Yang penting bagaimana kami bisa tabah sampai akhir.

“Sekarang saya beri waktu 1 jam. Kalian buat bivak alam solo. Kalian akan bertahan sendiri disini. Kalian akan saya pisahkan dengan rekan-rekan kalian. Harus bisa jaga diri sendiri atau alam akan menyiksa kalian. Tidak ada yang boleh berkomunikasi atau saling membantu. Jika ketahuan kalian akan tidur di sungai. Cepatkan sebelum matahari terbenam. Atau tanggung akibatnya nanti.”
“Siap kak.” Suara kami bergetar karena ketakutan yang akan dihadapi.

Pada hari itu aku disibukkan dengan pisau dan golok tebas. Aku mulai membuat pondasi dengan kayu yang kokoh, mengumpulkan daun daun yang lebar, membuat perapian untuk malam hari yang dingin.

Ditengah hutan itu aku benar benar sendiri. Aku tidak tahu bagaimana kabar rekan-rekanku, dan apakah kakak senior itu akan membantu jika aku diserang hewan buas atau hipotermia. Tanpa alat komunikasi, tanpa suara manusia disekitarku, hanya ada langit dan bulan. Sisanya suara alam. Disaat itu aku merasa hampa, kecil, tak berarti, tak berdaya. Waktu berjalan lambat.

Bingung bagaimana cara membunuh waktu agar pagi cepat datang. Aku gelisah, perassan cemas akan hal buruk membuat nafasku tak teratur. Lalu terdengar teriakan kakak senior dari kejauhan.
“Nikmati waktu sendiri kalian, pahami diri kalian. Selamat malam.”

Setelah suara itu. Aku sadar, aku tidak bisa terus berfikiran cemas. Aku tidsk boleh gelisah. Maka aku mulai membayangkan hal yang membuatku tenang. Bibirku tak berucap. Tapi aku merasa seperti sedang bicara dengan pohon, dengan daun, dengan angin, dan suara jangkrik.

Sendiri, tapi jiwaku hangat. Gelap, tapi sangat tenang. Aku mulai menghargai waktu. Merasa telah melakukan perjalanan spiritual. Beban dan masalahku terasa ringan. Setelah hari itu. Aku merasa telah menemukan jiwaku yang lama tenggelam. Seperti alam. Tenang tapi penuh kejutan.

Advertisements

Ruang Khusus

Di rumahku akan kusediakan sebuah ruangan khusus untuk buku-buku yang tersusun rapi dari dinding hingga langit-langit. Lampu yang cukup terang sehingga kamu tidak susah membaca, sebuah meja berpasang kursi berhadapan. Pilih bukumu, kuambil bukuku. Mari kita saling diam untuk menyelami fantasi. Dinding warna biru dengan wallpaper lukisan abstrak yang ku beli pada pameran tahunan di Ankarah. Tidak lupa kubuatkan teh hangat kesukaanmu kalau kamu haus ditengah perjalanan membaca. Musik klasik juga kuputar melalui handphoneku. Setelah itu mari kita berdiskusi tentang apa saja yang bukan tentang kita. Keluarkan argumen terbaikmu. Mari bersama membunuh waktu. Setidaknya inilah tempat terbaik untuk memanusiakan manusia. Kamu boleh datang kesini kapan saja kamu mau. Ruangan ini milikmu juga. Dan nanti akan kita ajak juga jagoan kita. Ruang ini kelak akan menjadi sejarah bagi kita. Saksi tentang dua insan yang dipersatukan buku. Tentang kita yang selalu bertanya-tanya, dan mencari jawaban.

Pantas

Pantas

Jika aku sebuah kendaraan,
Tak akan kupasang kaca spion.
Cukup kudengar tanpa melihat.
Karena dibelakang gelap dan bising.
Jika aku memiliki arah,
Pilihanku adalah kanan, kiri, maju.
Katakan hangat pada dingin.
Katakan bahagia pada sedih.
Katakan tenang pada gaduh.
Katakan maju pada mundur.
Katakan pantas untuk menikmati.
Susu hangat, madu dan angin.

Angin

Datang untuk mencari tenang.
Menarik diri bukan terlantar.
Seorang yang diam adalah pengamat,
Yang paling perduli mata angin.
Ia pergi untuk pulang.
Berdamai dengan dinding yang mendengar keluhan.

Entre mes rêves et ma famille

À minuit, sous la pluie, avec la lumière de la lampe à ma chambre. Je me demandais comment va mon futur? J’étais sceptique que je puisse quitter chez moi. Tous les souvenirs, les bruits, quand j’étais petit, quand je me suis réveillé à minuit parce que j’étais assoiffé. Et ma mère a m’aider. Quand j’attendais mon père revenir au travail et j’espérais lui m’apporter des jouets. Quand j’ai débattu avec ma petite sœur parce que un programme sur la télé. C’étaient mes souvenirs. L’année prochaine, tous ne sont pas les mêmes. Je dois chercher un travail, je dois économiser d’argent parce que je veux continuer mes études sois en France, sois aux États-Unis. Je dois réaliser mes rêves. Mais, comment puis je quitte ma petite famille ? Je dois la trouver.

Us

Kita mungkin bisa terlihat berpura-pura saling tidak perduli. Tapi, mata kita menampilkan kejujuran.
Kita mungkin mempunyai sudut pandang yang berbeda. Namun pandangan kita menjadi sama saat saling merasakan.
Kita mungkin tak selalu melangkah berdampingan. Tapi kakiku merasakan lebih bernyawa saat melangkah bersamamu.
Kita mungkin bisa merekayasa perkataan kita. Tapi bahasa tubuh tak bisa dipungkiri.
Kita mungkin saling menyesal pernah membuat kesalahan. Ego untuk mempertahankan diri.
Kita mungkin sedang memecahkan gengsi. Mengalahkan diri untuk kembali.

Sialan

Bahkan ketika mata memaksa tidur, sesuatu dibelakang alisku masih memeluk senyummu. Sialan tak kau izinkan aku istirahat.

–Najeeb

Notes

Notes to myself :

1. Read, read and read. Knowledge will help you.
2. Fix your manners. Be a gentleman. Not a boy.
3. Be mature at 21 it must. Dont expect to people. Trust Yourself.
4. Enjoy your time.
5. Invest your money.
6. Dont fall in love quickly. True love will finds the way at the perfect timing.
7. Leaving home. It means must be responsible at everything. Out from comfort zone, meet new people, be better and be humble.
8. Trust no one.
10. Loneliness is your friend, accept it. But happiness is your destiny.
11. Be productive. Thrive your potential.
12. Write, write and write.
13. Choose your way. And be consistent.
14. Keep contact with family. It’s about priority.
15. Listen good music, play futsal, play violin, do climbing, do what you love.
16. Smile more.
17. Be happy.
18. Nature and forest will show who you are.
19. Positif thinking is a must.
20. Buy some books, read a lot.
21. Buy chocolate instead of drink.
22. Buy clothes instead of eat expensive food.
23. Go travel anywhere.
24. Save money, use it for emergency conditions.
25. Share your food with neighbors.
26. In the dark, use candle instead of light.
27. Be a good listener.
28. Help everyone.
29. Learn from hurt. Dont do it twice.
30. Keep straight.
31. Appreciate yourself when you’ve done something.
32. Never be scared.
33. Be different.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑